Pengertian Ikhtisar, Ciri, Tujuan & Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 10

  • Whatsapp

Dalam artikel Bahasa Indonesia kelas 10 kali ini, kita akan belajar mengenai ikhtisar. Apa sih yang dimaksud dengan ikhtisar? Bagaimana contohnya? Yuk kita bahas sama-sama!

Kalian pernah nggak mendengar istilah ikhtisar? Bagaimana pengertian ikhtisar? Ikhtisar adalah teks yang dibuat secara ringkas berdasarkan teks asli. Sederhananya, kalian hanya perlu menuliskan hal yang dianggap penting saja. Untuk memahaminya lebih dalam, coba simak penjelasan tentang pengertian ikhtisar dan contohnya, yah!

 

Pengertian Ikhtisar

Ikhtisar merupakan bagian yang menentukan karena memuat keseluruhan isi pada teks. Dengan kata lain, ikhtisar mengandung persoalan dan tujuan yang menjadi topik pada teks. Ikhtisar hampir sama dengan simpulan, tetapi memiliki struktur yang berbeda.

Teks ini biasanya digunakan untuk mempermudah saat belajar. Untuk membuatnya, penulis perlu membaca keseluruhan teks asli, dan harus membaca dengan cermat serta jeli. Saat menulis ikhtisar, harus memperhatikan penulisan karena kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang. Dengan kata lain, penulis sebaiknya bisa menuliskan kembali dengan padat dan tanpa menghilangkan tema dan topik.

ciri-ciri ikhtisar

Ikhtisar berbentuk teks pendek, sehingga harus menggunakan kalimat efektif. Hal ini sejalan dengan definisinya dalam KBBI, pemandangan secara ringkas (yang penting-penting saja). Ikhtisar tidak memperhatikan urutan pada teks asli. Jadi, dapat dikatakan bahwa ikhtisar hanya mementingkan peringkasan materi pada teks sebelumnya. 

Baca Juga: Pengertian Teks Biografi, Struktur & Cirinya

Tujuan Penulisan Ikhtisar

Tujuan penulisan ikhtisar adalah untuk memberikan gambaran inti dari sebuah teks yang sedang atau akan dibaca. Ikhtisar juga ditulis untuk memberikan sebuah kesimpulan dari sebuah teks. 

Biasanya, ikhtisar ditulis dengan lebih ringkas dan tidak bertele-tele dari teks aslinya. Ikhtisar juga berfungsi sebagai teks yang membantu para pembaca agar lebih mudah memahami dan mendapatkan gagasan dari teks panjang yang tengah dibahas.

Lalu, bagaimana cara menyusun ikhtisar yang baik? Coba perhatikan berikut:

cara menyusun ikhtisar

 

Contoh Ikhtisar

Nah, setelah kita paham tentang pengertian dan cara menyusun ikhtisar, sekarang kita bahas contohnya, yah! 

Teks asli

Beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin seorang raja dan ratu yang mempunyai anak bernama Dayang Sumbi. Pada saat ia menenun, ia merasa lemas dan pusing. Lalu ia menjatuhkan pintalannya dan ia bersumpah bahwa siapa yang akan mengambilkannya, dia akan menikahinya. 

Pada saat itu, seekor anjing bernama Tumang mengambilkannya. Mereka pun menikah, lalu dikaruniai seorang anak yang diberi nama Sangkuriang. Pada suatu hari, Dayang Sumbi menyuruh anaknya dan Tumang mencari rusa. Sangkuriang berputus asa tetapi ia tidak ingin mengecewakan ibunya, kemudian Sangkuriang memanah Tumang dan membawanya kepada ibunya.

Tiba-tiba Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan ia menanyakan kepada anaknya. Sangkuriang pun bercerita yang sebenarnya. Dayang Sumbi marah dan memukul Sangkuriang hingga pingsan. Kemudian Dayang Sumbi mengusir anaknya. 

Setelah dewasa, Sangkuriang pergi melihat dunia luar. Ia bertemu dengan gadis cantik yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Sangkuriang telah jatuh cinta pada gadis itu dan Sangkuriang pun melamarnya. Pada saat akan menikah, Dayang Sumbi mengelus dahi Sangkuriang kemudian Dayang Sumbi sadar bahwa yang akan menikahinya adalah anaknya sendiri.

Dayang Sumbi ingin pernikahannya gagal. Oleh sebab itu, ia pun mengajukan syarat yang tak mungkin dikabulkan Sangkuriang. Ia harus membuat sebuah bendungan yang mengelilingi bukit dan membuat perahu untuk menyusurinya. Pekerjaan Sangkuriang hampir selesai, tetapi fajar terbit lebih cepat dari biasanya. Sangkuriang pun merasa kalau dirinya ditipu. Kemudian Sangkuriang menjadi sangat marah dan ia mengutuk Dayang Sumbi sambil menendang perahu hingga terbalik yang kemudian membentuk “Tangkuban Perahu”.

Baca Juga: 10 Contoh Hikayat Beragam Tema & Jenis-Jenisnya

Ikhtisar

Pada zaman dahulu kala, ada seorang putri bernama Dayang Sumbi. Saat ia menenun, tiba-tiba merasa lemas dan pintalannya jatuh. Pintalan itu ditemukan oleh seekor anjing bernama Tumang dan keduanya pun menikah. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai anak bernama Sangkuriang. Saat Sangkuriang berburu di hutan bersama Tumang, ia tidak bisa menemukan rusa. Akhirnya Sangkuriang membunuh Tumang.

Mengetahui hal ini, Dayang Sumbi marah dan mengusir anaknya sendiri. Saat Sangkuriang beranjak dewasa, ia bertemu dengan wanita cantik dan ingin menikahinya. Wanita tersebut tak lain adalah Dayang Sumbi, ibunya sendiri. Mengetahui hal ini, Dayang Sumbi ingin menggagalkan pernikahannya dengan memberikan syarat yang mustahil bagi Sangkuriang. Dayang Sumbi ingin dibuatkan bendungan yang mengelilingi bukit dan perahu yang bisa mengelilinya. 

Ketika matahari terbit, Sangkuriang belum bisa menyelesaikannya sehingga ia merasa ditipu. Karena sangat marah, Sangkuriang kemudian mengutuk Dayang Sumbi sambil menendang perahunya hingga terbalik yang kemudian membentuk “Tangkuban Perahu”.

Baca Juga: Mempelajari Pengertian Teks Anekdot, Ciri, Tujuan, Struktur & Contohnya

Dapat dilihat bahwa kalimat yang digunakan adalah kalimat kompleks. Hal ini disebabkan oleh tujuan ikhtisar yang ingin mempersingkat teks asli tanpa menghilangkan tema dan topik dari teks asli. Kalimat kompleks digunakan untuk mencakup maksud dari teks asli dalam satu kalimat sehingga kalimat yang digunakan dalam teks ini padat. Selain itu, kalimat kompleks juga membuat kalimat yang digunakan dalam ikhtisar tidak terlalu banyak. 

Sekarang teman-teman sudah tahu ‘kan apa itu pengertian ikhtisar? Dalam menulis teks ikhtisar, kalian harus baca tulisan aslinya dengan cermat ya, karena memahami isi tulisan asli itu penting untuk membuat ikhtisar yang baik dan tidak mengurangi esensi dari isi tulisan aslinya. Sekarang, coba, yuk lihat penjelasan tentang ikhtisar dalam video belajar dengan animasi-animasi yang keren hanya di ruangbelajar.

Referensi
Wahono dan Abdul Hanif. 2010. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional

Artikel ini telah diperbarui pada 1 November 2022