Keluarga yang Menangis Pada Dini Hari

  • Whatsapp

Karya: Edy Firmansyah

Pada pukul dua dini hari, saat semua orang melompat tidur dan tenggelam dalam mimpi panjang, bapak terjaga dari tidurnya. Bapak biasa bangun setiap pukul dua pagi sejak masih kecil. Malam itu ia terjaga dan teringat masa kecilnya. Saat bapak masih kecil, kakek pernah berkata padanya; “Besok, kalau kau sudah besar, aku akan menyekolahkan kau ke ITB. Biar seperti Soekarno. Negeri ini butuh banyak orang seperti Soekarno.” Tapi kata-kata itu seperti mantra yang gagal. 

Bapak bukan anak pintar. Nilai rapornya biasa saja. Tapi tulisan tangannya rapi dan bagus sekali. Ia ingin sekolah di ITB jurusan teknik sipil seperti Soekarno. Bapak suka membuat rumah-rumahan dari pasir. Sepertinya berbakat menjadi arsitek. Sampai di sini sebenarnya tidak ada yang salah dengan hidupnya. Sampai kemudian kakek sakit. Livernya rusak. Sirosis. Tubuhnya menguning seperti daun cabe kekurangan nutrisi. Perutnya sebuncit  perempuan hamil.

Kakek meninggal ketika bapak berusia 12 tahun. Menyisakan banyak sekali utang karena biaya penyembuhan penyakit livernya kelewat mahal. Akibatnya bapak hanya bisa melanjutkan sekolah hingga SMA. Itu pun dengan biaya berjualan telur ayam kampung bersama nenek. Karena nasib baik belaka, bapak diterima sebagai pegawai negeri. Menikah dengan perempuan yang ia cintai. Dan mengubur cita-citanya menjadi arsitek. Tapi ingin anak semata wayangnya bisa jadi pegawai negeri. 

Karena itu bapak rajin shalat tahajud. Agar harapannya tercapai dan anaknya tidak hidup menderita seperti dirinya. Terpuruk dari keluarga kelas menengah menjadi keluarga miskin mirip jatuh dari pohon kelapa dan patah tulang ekor. Tapi pada pukul dua pagi ini bapak shalat tahajud sambil menangis. Ia khawatir dengan hari depan anaknya. 

Baca Juga: Cerpen Traktor Kang Darno Karya A. Rantojati

Pada pukul dua dini hari, saat bapak menangis, ibu terjaga. Sebelum menghampiri bapak yang terisak di ruang tamu (bapak biasa shalat Tahajud di ruang tamu) ibu pergi ke dapur. Melihat tampi berisi tepung beras. Nenek baru tujuh hari meninggal. Konon, kata orang, arwah orang yang meninggal masih berada di rumah selama tujuh hari sebelum terangkat ke langit. Ibu ingin memastikan arwah nenek masih di rumah.

Jejak yang ditinggalkan arwah keluarga yang mati pertanda nasib baik melingkupi. Pertanda akan datangnya rejeki yang tak terduga. Maka ia meletakkan tampi berisi beras. Siapa tahu arwah nenek melintas dan tanpa sengaja meninggalkan jejak kaki. Setelah memastikan tak ada tanda jejak apa pun di tepung beras, ibu menghampiri bapak. 

“Mengapa kau menangis?” Ibu bertanya. Suaranya lirih dengan sedikit serak seperti suara boneka kehabisan baterai. Sesekali matanya memandang seekor ikan mas koki yang berenang lelah di toples yang terletak di dekat tv. Sebenarnya bukan itu saja peliharaan ibu. Ada juga seekor kura-kura Brazil dalam toples yang diletakkan di dapur yang dipandanginya tiap kali memasak. 

“Aku takut anak kita tak bisa menjadi pegawai negeri. Kau tahu biaya sogok untuk menjadi pegawai begitu mahal. Kemarin aku tanya teman kantor yang anaknya lolos jadi pegawai, katanya biayanya 80 juta. Kita tak punya tabungan sebanyak itu. Sedangkan anak kita tidak punya kemampuan otak secerdas Newton atau Einstein,” kata Bapak sambil terisak. 

Bapak menangis tidak untuk menipu diri sendiri. Anaknya telah banyak melakukan dosa besar yang jika terus dilakukan akan membuat rejekinya semampat lubang kakus penuh popok bayi. Anaknya pernah menyimpan VCD porno, gemar menenggak miras dan sempat membuatnya terjengkang dalam comberan (yang jika tidak lekas ditolong tetangga mungkin sudah berubah menjadi lumut), mengintip gadis mandi dan nyaris dihajar massa. Bapak beranggapan dengan dosa sebanyak itu, tanpa punya keinginan untuk bertaubat, bahkan doa seratus orang miskin yang teraniaya tak akan sanggup membuka pintu rejeki. 

“Apa yang kau takutkan? Allah Mahakaya. Selama kita berdoa, hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Percayakan semua pada Allah,” kata Ibu.

 Ibu orang yang percaya di dunia ini ada hal gaib yang tak bisa dikendalikan oleh yang nyata. Ada beberapa hal yang membuat Ibu yakin dengan itu. Ketika SMA, sepulang sekolah, ibu pernah jatuh dari sepeda. Ibu jatuh di jalan raya dan tepat di belakangnya sebuah truk melintas. Ibu merasa hari itu malaikat maut sedang melambaikan tangannya, sehingga yang dilakukannya hanya pasrah. Ia terlentang sambil terus membaca salawat. Truk itu melintas dan ibu tepat berada di tengah. Dan ibu tidak mati. Hanya lecet di lutut dan dahinya berdarah tergores aspal. Doa adalah energi. Doa bisa membalikkan langit dan bumi. Jika Allah menghendaki jadi, maka jadilah. 

Baca Juga: Cerpen Kereta Menuju Langit Karya Mochamad Bayu Ari Sasmita

Ibu kemudian rebah di paha bapak dan bapak bersandar di kursi. Bapak duduk sambil memejamkan mata. Keduanya lantas tertidur. Memang tidak biasanya usai shalat tahajud mereka tidur. Biasanya mereka berdzikir hingga azan subuh kemudian berangkat ke masjid. Mungkin karena lelah atau hal lain mereka tertidur. 

Pada jam tiga pagi, ketika semua orang tertidur, seekor kura-kura melompat dari toples dan terjatuh ke dalam tampi penuh tepung beras. Dengan tubuh penuh bedak seperti buah kesemek ia membangunkan seekor ikan mas koki. Keduanya lantas duduk di sofa di ruang tengah dan menyalakan TV. Tayangan kesukaannya adalah konser unplugged di MTV. Agar suaranya tak kedengaran orang lain keduanya mengenakan headset. Kali ini mereka mendengarkan Nirvana. Pada pukul empat pagi mereka meninggalkan sofa dan kembali ke toples masing-masing dengan meninggalkan jejak di tampi dan membiarkan TV menyala. 

Ketika Bapak dan Ibu terjaga, mereka mendapati tampi penuh jejak dan TV menyala. Bulu kuduk mereka berdiri. Mereka menduga bahwa arwah nenek telah mendatangi mereka dan keduanya merasa sangat diberkati. Sedangkan kura-kura dan ikan hanya tertawa di dalam toplesnya. Keduanya berencana melakukan hal serupa besok dan besoknya lagi untuk membunuh rasa bosan.

Namun sebelum mereka kembali ke dalam aquarium masing-masing, ikan mas koki sempat bertanya pada pada si kura-kura. “Mengapa suami istri itu bersedih? Bertengkar lagi?”

Si kura-kura menggeleng. “Biasalah. Memikirkan anak semata wayangnya yang kacau,” katanya. 

Pada pukul tiga dini hari, si anak terjaga karena mimpi buruk. Ia tak pernah terjaga dari tidur pada dini hari selama kuliah dan jauh dari rumah. Tapi dini hari itu ia terjaga. Mimpi itu sebenarnya tidak terlalu buruk. Tapi cukup mengganggu. Ia berada di sebuah hutan dan bertemu seorang gadis. Gadis itu kemudian mengajaknya ke taman bunga. Sebuah taman yang indah dipenuhi kupu-kupu dan bunga aneka warna. Mereka lantas hendak berciuman.

Baca Juga: Cerpen Benang Layangan Karya Moh. Afaf El Kurniawan

Saat mulai saling mendekat, gadis itu berubah menjadi seekor sapi. Yang membuatnya jengkel sapi itu terus meneteskan ludahnya. Ia tahu bahwa mimpi adalah cara otak berbicara pada dirinya sendiri. Tapi apa yang hendak dibicarakan oleh seorang gadis yang berubah menjadi sapi?

Apakah ada hubungannya dengan aktivitas sekarang? Anak itu memang sedang giat mengarang.  Sudah beberapa bulan ini ia gemar menulis dan mengirimkan tulisan ke media. Meski belum ada satu pun yang membuat redaktur media berbaik hati memuatnya, sebelum mimpi buruk itu datang, ia mengirimkan tulisan untuk sebuah lomba yang jika ia memenangkannya, namanya akan terkenal dan pintu gerbang kemudahan akan terbuka. Penerbit akan melirik karya-karyanya. Lagipula hadiah menang lomba itu bisa membuatnya membuka usaha. Ia sama sekali tidak punya keinginan menjadi pegawai negeri. 

Ia menenggak sisa air mineral dalam botol lantas menyulut sebatang rokok. Rokok terakhir yang dimiliki. Setelah rokok habis, ia merebahkan tubuhnya lagi di kasur kumal. Kasur yang baunya seperti santan basi karena tak pernah dijemur dan dicuci sejak tinggal di kamar kos itu sebagai mahasiswa. Dan ia kembali terlelap. Berharap besok ia memenangkan lomba itu. Tidak juara satu tidak apa-apa. Yang penting menang. Ia sudah membuat cerita terbaik yang ia bisa. 

Tentu saja ia terlambat bangun. Tanpa mandi dan cuci muka ia segera berlari ke warnet. Membuka website dan melihat pengumuman. Dan bertapa dirinya gemetar. Dari deretan nama pemenang, bahkan namanya tak terpacak di sana. Ia menggebrak meja. Membuat para penyewa warnet memandang padanya. Ia hanya mendengus. Lalu berselancar di mesin pencari dan menemukan sebuah pengumuman. Pendaftaran aktivis kemanusiaan yang ditugaskan di Afganistan. Ia kemudian mendaftar. Setelah menunggu begitu lama, ia akhirnya diterima seleksi. Ia senang sekali. Hidup hanya sekali, jadilah apa saja asal berguna. Begitu bisik batinnya menyemangati diri. 

Setahun setelah bekerja sebagai aktivis ia mengambil cuti. Tepat pada jam dua pagi, saat ia tiba di bandara Hamid karzai, ia ditembak orang. Arwahnya gentayangan. Arwah itu memutuskan pulang ke rumah orang tuanya dan ia mendapati rumah telah kosong. Hanya sepi. Sepi. Tersisa seekor kura-kura dan seekor ikan mas koki sedang asik menonton tv.

Baca Juga: Cerek Talise Karya Karya Nadhila Hibatul Nastikaputri

 

Tentang Penulis:

Edy Firmansyah Menulis dua buku kumpulan cerita pendek; Selaput Dara Lastri (IBC, 2010) dan Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon (Cantrik Pustaka, 2021). Kini sedang menyiapkan buku kumpulan cerpen ketiganya.

Ruangguru membuka kesempatan untuk kamu yang suka menulis cerpen dan resensi buku untuk diterbitkan di ruangbaca, lho! Setiap minggunya, akan ada karya cerpen dan resensi buku yang dipublikasikan. Kamu bisa baca karya cerpen menarik lainnya di sini, ya. Yuk, kirimkan karyamu juga! Simak syarat dan ketentuannya di artikel ini. Kami tunggu ya~