Ingin Trading Crypto? Selainnya Tidak Punyai Asset Fisik, Ini Resikonya

  • Whatsapp

Investasi uang crypto sekarang sedang trend di kelompok masyarakat terutamanya angkatan milenial. Ingat, investasi berbasiskan uang crypto ini tawarkan keuntungan yang lumayan tinggi.

Tetapi sebelumnya, beberapa investor disuruh untuk pahami resiko dari investasi cryptocurrency lebih dulu. Apa lagi, Satuan tugas Siaga Investasi (SWI) terus mengingati warga, khususnya investor, untuk waspada saat melakukan investasi di cryptocurrency yang jadi viral di dunia. Peringatan ke beberapa aktor usaha di bagian cryptocurrency lebih patuhi ketetapan hukum dan mengurus resiko investasi. Hingga mematuhi hukum dan bikin rugi customer.

Bacaan Lainnya

Apa lagi, tingkat literatur keuangan di Indonesia sebetulnya relatif masih rendah. Walau ada satu kelompok orang yang mempunyai dana besar dan menyenangi pertaruhan di pasar keuangan.

“Ada barisan tertentu yang karakternya elitis, ada sedikit orang yang punyai banyak uang. Ini tidak dapat dibendung karena konteksnya global dan digital. Ingin gunakan ketentuan seperti apakah juga, pemerintahan tidak bisa, ingin dilarang tidak dapat. Investor biasa dan pemula berikut yang penting diproteksi,” tutur Founder Traderindo, Wahyu Laksono, dalam keteranganya, Senin (10/5/2021).

Menurut Wahyu, resiko investasi crypto relatif besar sekali karena media transisinya cuman memakai cryptografi, tanpa agunan asset dari investasi yang dimasukkan. Fluktuasi harga juga tinggi, hingga menjadi satu diantara transaksi bisnis perdagangan yang termasuk benar-benar spekulatif.

Resiko yang lain perlu dicurigai, imbuhnya, ialah status perdagangan cryptocurrency tidak jadi asset, tapi diperjualbelikan seperti derivatif pasar. Keadaan berikut yang mempunyai potensi besar munculkan kesempatan penipuan penggelapan dan transaksi bisnis bodong.

Wahyu menjelaskan untuk warga pemula, seharusnya pilih melakukan investasi di produk yang telah ditata dan mempunyai kejelasan hukum. Sesudah pahami resikonya, investor disarankan untuk berbisnis dalam negeri di instansi yang telah memperoleh ijin dari Bappebti.

“Tiap investasi ada resikonya. Nach, yang khusus, saksikan dahulu produknya ditata atau mungkin tidak? Anjuran saya untuk yang pemula, tak perlu beberapa macam pikirannya. Untuk pemula yakin saja ke Pemerintahan dahulu. Tingkatnya yang di sana dahulu,” terangnya.

Awalnya, Ketua SWI OJK, Tongam Lumban Tobing mengingatkan warga supaya waspada dan pahami investasi asset crypto, seperti bitcoin, dogecoin dan beberapa asset crypto lain.

Ia menjelaskan asset crypto tidak mempunyai underlying asset atau pangkalan tanda yang memayungi nilai investasinya, tapi cuman diakui berdasar keinginan dan penawaran. Disamping itu, tidak ada regulator yang memantau asset karena dibuat lewat virtual ini, hingga benar-benar beresiko.

Menurut Tongam, berdasar Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011, asset crypto ini sudah digolongkan sebagai subyek kontrak berjangka. Oleh karenanya telah dipantau oleh Tubuh Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Sekarang ini, sudah ada 13 calon perdagangan fisik asset kripo di Indonesia.

Lebih jauh, Wahyu menyampaikan warga tidak boleh tergoda dengan bujukan keuntungan yang besar, tapi saat di check kenyataannya, instansi yang tawarkan investasi tidak tercatat dalam Bappebti.

Masuk dalam mekanisme, terangnya, akan kurangi resiko investasi crypto dari kejelasan hukum. Ia pun tidak menyarankan warga melakukan investasi di instansi crypto di luar negeri karena tertarik sama selebriti atau beberapa orang kaya dunia.

“Pokoknya, jika warga pemula, jika ingin trading crypto, seharusnya berbisnis di lokasi yang telah disokong mekanisme, ada pelindungan dari Pemerintahan, ya sudah masukan ke Bappebti atau BBJ,” terangnya. (TYO)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *