Gubernur Kaltim Sebut Ada Tokoh Bangsa yang Tolak IKN Jadi Pendek Umur

  • Whatsapp

cocotekno.com – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Isran Noor tampaknya tak terima dengan orang-orang yang menolak pembangunan Ibu Kota Negara ( IKN ) baru.

Dia pun mengaku kesal melihat masih banyaknya pihak yang menolak pembangunan IKN Nusantara tersebut.

Bacaan Lainnya

“Saya selalu menyampaikan ini kepada semua pihak, karena masih ada orang yang tidak setuju. Masih ada yang komentarnya miring-miring, bahwa ibu kota itu belum saatnya pindah, ada banyak,” tutur Isran Noor saat acara Puncak Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-94, Jumat, 28 Oktober 2022.

“Di sini enggak ada pasti, di sana,” ucapnya menambahkan.

Isran Noor pun kemudian memberikan peringatan bernada ancaman untuk orang-orang yang menolak pembangunan IKN .

“Hati-hati yang nggak setuju, bisa pendek umurnya. Bener,” ujarnya.

“Mohon maaf, jangan ada yang tersinggung tapi ada buktinya atau kebetulan, dia menolak, tidak setuju dengan alasan cetek, alasan kita belum punya keuangan yang cukup, ini urusan negara,” kata Isran Noor menambahkan.

Dia menuturkan bahwa alasan kekuatan ekonomi sebagai landasan penolakan pembangunan IKN merupakan hal yang ‘cetek’.

“Bener nih, ini urusan bangsa, mikir uang Rp500 triliun, dari Rp500 triliun itu hanya Rp100 triliun, 20 persen yang dana APBN dalam UU Nomor 3 tahun 2022,” ujar Isran Noor.

“2020, 2021, negara menghabiskan uang negara ini, APBN, Rp1.000 triliun lebih hanya ngurusi Covid sontoloyo itu aja, kita nggak terasa. Ini urusan bangsa,” tuturnya menambahkan.

Orang nomor satu di Kalimantan Timur itu pun mengaku kerap merasa kesal dengan pernyataan para penolak IKN ini.

Isran Noor juga kembali memberikan peringatan terhadap orang-orang menolak pembangunan IKN Nusantara ini.

“Mohon maaf, saya kadang-kadang salah omong tapi kesel-kesel juga sebenarnya,” ujarnya.

“Jadi hati-hati yang nggak setuju, saya nggak mau sebut namanya, siapa orang itu yang mati. Dia vokal tidak mau setuju, tokoh bangsa, dia, akademisi,” kata Isran Noor menambahkan.

Meski tidak mau menyebutkan nama, ucapan itu tampaknya ditujukan kepada Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra .

Hal itu adalah karena dia merupakan satu dari 45 tokoh nasional yang menggagas petisi menolak pemindahan dan pembangunan Ibu Kota Negara ( IKN ) Nusantara berjudul “Pak Presiden, 2022-2024 Bukan Waktunya Memindahkan Ibukota Negara”.

Prof. Dr. Azyumardi Azra pada awal Februari 2022 lalu mengatakan bahwa sebenarnya dia bersama sejumlah inisiator, termasuk Din Syamsuddin, berniat untuk mengajukan judical review terhadap UU IKN .

Para inisiator petisi yang digalang dalam https://cocotekno.com change.org itu menilai pembangunan dan pemindahan ibu kota negara saat ini bukan waktu yang tepat, dan salah satu alasannya adalah karena persoalan ekonomi.

“Proyek IKN ini kalau diteruskan, akan menjadi proyek mercusuar karena anggarannya sekarang dihitung mencapai Rp 466 triliun, tapi dalam kalkulasi di DPR itu bisa sampai Rp 1.500-an T,” tutur Prof Azyumardi Azra .

“Berarti setengah tahun APBN kita. Jadi kalau dana APBN satu tahun dipakai ke sana kita berhenti menikmati pendidikan, fasilitas umum, kesehatan. Bisa saja di kampus nggak ada lagi riset karena dana untuk penelitian nggak ada. Remunerasi juga bisa nggak ada. Bisa juga kesehatan tidak sepenuhnya gratis,” ujarnya menambahkan.

Sayangnya beberapa bulan lalu, Prof Azyumardi Azra meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Serdang, Selangor, Malaysia, sejak Jumat, 16 September 2022.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Hermono mengatakan, Prof Azyumardi Azra tutup usia pada Minggu, 18 September 2022 pukul 12.30 waktu setempat karena serangan jantung.

Hal tersebut tertulis dalam surat kematian yang dikeluarkan pihak rumah sakit.

“Jadi tertulis dalam surat tersebut penyebabnya acute inferior myocardial infarction,” ujar Hermono.

Myocardial infarction atau serangan jantung adalah kondisi darurat medis saat otot jantung mulai mati karena tidak mendapatkan aliran darah yang cukup.

Dikutip dari Cleveland Clinic, kondisi ini biasanya disebabkan oleh penyumbatan di arteri yang memasok darah ke organ jantung.

Jika aliran darah tidak segera kembali normal, serangan jantung dapat menyebabkan kerusakan jantung permanen bahkan kematian.

Pasalnya, menganggu fungsi jantung untuk memompa darah, sehingga darah tidak akan mengalir ke organ penting maupun seluruh tubuh.***

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website pikiran-rakyat.com. Situs https://cocotekno.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), https://cocotekno.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

Pos terkait