Efisiensi Spektrum dalam Migrasi 3G ke 4G

  • Whatsapp

cocotekno.com – UPAYA menyuntik mati layanan komunikasi tahun ini, ASO (analog switch off) dan telekomunikasi generasi ketiga (3G) akan tuntas di akhir tahun ini.

Semuanya bermula dari tidak efisiennya pemanfaatan spektrum frekuensi yang digunakan masing-masing, siaran televisi analog dan 3G operator seluler.

Bacaan Lainnya

Siaran televisi analog memanfaatkan spektrum frekuensi 700 Mhz yang sangat lebar, sementara dengan digitalisasi penggunaan spektrum televisi diberikan secukupnya tetapi efisien, dan digunakan bersama. Sisanya, selebar sekitar 100 MHz dapat dimanfaatkan untuk layanan seluler.

Televisi analog memakan spektrum ratusan MHz tetapi membayar BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi sangat kecil. Sementara untuk layanan 3G yang pelanggannya harus pindah ke layanan 4G, menurut para ahli, baik dari praktisi maupun penyedia teknologi, lebih boros dalam memanfaatkan spektrum.

Dibanding 4G, layanan 3G menurut mereka tidak memberi manfaat besar secara kapasitas, sehingga penataan ulang atau suntik mati 3G akan berdampak luas pada berkurangnya konsumsi energi dan biaya operasional. Kualitas 3G tidak cukup baik, kapasitas kurang, dan mematikannya lebih cepat lebih baik, dan itu yang dilakukan semua operator seluler dunia.

Menurut mereka, layanan 4G jauh lebih efisien dibanding 3G karena kapasitas datanya lebih besar, konsumsi dayanya pun lebih efisien. Saat ini kebanyakan operator di Indonesia hanya menyediakan pita spektrum frekuensi selebar 5 MHz di rentang 2,1 GHz yang lebih bermanfaat jika digunakan untuk layanan 4G.

Juga jika layanan 5G sudah mulai dikomersilkan, ketika penetrasinya semakin tinggi dan kebutuhan masyarakat akan data berbasis 5G tumbuh pesat.

Beda dengan 4G yang berteknologi LTE (long term evolution), 3G menggunakan teknologi WCDMA (wideband code division multiple access) yang kapasitas datanya hanya 2 MB dan ketika trafiknya bertambah, cakupannya makin menyempit (shrinking).

Dengan lebar frekuensi sama, kapasitas 4G LTE bisa sampai 10 MB sampai 1 GB, latensi yang lebih rendah yang ditandai dengan sedikitnya buffering, mutu suara lebih bagus, juga kualitas video streaming-nya, selain kecepatan yang lebih tinggi.

Saat ini, sama dengan 2G, hampir semua vendor ponsel tidak lagi memproduksi ponsel 3G dan penggunanya diupayakan migrasi ke 4G. Namun HMD Global, pemegang brand Nokia yang mau tak mau ikuti perkembangan teknologi, sampai hari ini masih merilis features phone berstandar 4G.

Merata dan matang

Para produsen chipset untuk ponsel pintar atau tablet sejak lama bergegas menyiapkan prosesor-prosesor 4G/LTE dan Qualcomm memproduksi minimal chipset 4G, salah satunya Snapdragon 680. Prosesor ini dirancang setelah Qualcomm melihat perubahan besar pada kebiasaan penggunaan smartphone.

Semua operator wajib mematikan layanan 3G hingga akhir 2022 dan pelanggannya dipindahkan ke layanan 4G LTE untuk mendapat pengalaman digital yang lebih baik.

Ada yang sudah tuntas seluruh pelanggannya di Jawa seperti XL Axiata, ada yang melakukannya secara bertahap seperti Telekomsel dan Indosat Ooredoo Hutchison, ada pula yang tidak melakukannya sama sekali karena tidak punya pelanggan 3G, misalnya Smartfren.

Telkomsel melakukan percepatan peningkatan atau pengalihan layanan jaringan 3G ke 4G/LTE secara bertahap pada seluruh wilayah Indonesia. Proses migrasi diharapkan membuka peluang lebih luas bagi masyarakat Indonesia dalam menikmati akses jaringan dengan teknologi terdepan secara setara dan merata.

Walau bertahap, dalam pelaksanaan percepatan atau pengalihannya diprioritaskan untuk wilayah yang sudah memiliki pemanfaatan layanan 4G/LTE yang sudah merata dan matang.

“Upgrade seluruh layanan 3G ke 4G jadi bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah menghadirkan konektivitas digital dengan kualitas prima yang merata hingga pelosok negeri,” ujar Dirut Telkomsel, Hendri Mulya Syam.

Menurut Hendri, proses upgrade layanan 3G ke 4G ini telah melalui tahap pengkajian, perencanaan serta persiapan yang matang.

Mencakup kesiapan infrastruktur dan teknologi, jaminan kenyamanan pelanggan selama proses upgrade berlangsung, hingga kesesuaian dengan perundangan di sektor telekomunikasi dan perlindungan konsumen yang berlaku di Indonesia.

Pelanggan ritel (business to consumer – B2C) dapat menikmati pengalaman aktivitas digital yang lebih baik dibandingkan layanan 3G, seperti streaming video dan musik digital, konferensi video, game dalam jaringan (online), hingga layanan VoLTE (Voice over LTE).

Akan didapat pengalaman berbeda ketika menikmati layanan voice dan broadband secara bersamaan.

Untuk itu, proses upgrading layanan 3G ke 4G dilakukan bertahap dan terukur serta diprioritaskan percepatannya di wilayah yang sudah memanfaatkan layanan 4G yang merata dan matang.

Proses ini mendorong efisiensi infrastruktur operator, sekaligus mendorong percepatan program pemerintah agar jaringan 4G tersedia di seluruh wilayah Indonesia pada akhir 2022.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website tekno.kompas.com. Situs https://cocotekno.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), https://cocotekno.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

Pos terkait