3 Kekurangan Trading Kripto dan Perbedaannya dengan Investasi Reksadana

  • Whatsapp

​Cryptocurrency atau yang dikenal juga dengan asset kripto sedang terkenal di Indonesia untuk dijadikan investasi. Beberapa asset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, Ripple, Tether, dan Doge nilainya naik tinggi semenjak awalnya tahun ini dan memberikan keuntungan untuk beberapa pemegangnya. Bagaimana dengan faktor resikonya?

Di Indonesia, menurut Tubuh Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, asset kripto ialah komoditi yang diperjualbelikan di bursa berjangka. Walau dilarang sebagai mata uang atau alat pembayaran oleh Bank Indonesia, asset kripto bisa dijadikan alat investasi dan bisa dijualbelikan.

Bacaan Lainnya

Asset kripto yang kerap disebutkan coin kripto atau uang kripto menarik untuk diperjualbelikan (trading) cepat sebab bisa dilaksanakan selama seharian tanpa liburan (24/7). Apa lagi, public figure populer seperti Elon Musk pemilik Tesla juga dikabarkan mempunyai asset uang kripto Doge, hingga memacu nilainya naik jika dibanding dengan mata uang dolar.

Nilai Bitcoin dan koin-koin kripto yang lain dapat naik dalam sekejap tanpa batas karena asset digital ini datang karena tehnologi blockchain. Tehnologi blockchain ialah mekanisme alat rekam info yang membuat tidak mungkin untuk diganti, di-hack atau diakali, hingga tidak perlu ada tubuh atau kewenangan yang memantau dan membuat ketentuan.

Tetapi, warga yang tertarik sama asset kripto ini perlu pahami resiko atau kekurangan koin-koin ini jika jadi investasi. Berikut penjelasannya.

Kekurangan Trading Crypto

1. Resiko Benar-benar Tinggi

Nilai Bitcoin dan koin-koin yang lain bisa jadi naik sampai beberapa ratus % tanpa batasan. Tetapi, resiko pengurangan nilainya pun tidak berbatas. Bisa jadi, investor atau trader yang tempo hari untung ini hari dapat buntung karena jual beli asset kripto.

Ini berlainan dengan investasi di pasar modal seperti saham, atau reksadana saham. Di Bursa Dampak Indonesia, batasan optimal pengurangan saham dalam satu hari ialah 7 % dan langsung akan aktifkan mekanisme auto rejection. Jika pengurangan terjadi beberapa hari, kewenangan Bursa juga dapat mengaplikasikan pemberhentian perdagangan sementara (suspensi) hingga rugi investor saham atau reksadana saham dapat terbatasi.

2. Tidak Ada Esensial untuk Dikaji

Cryptocurrency seperti Bitcoin, Ethereum, Ripple, Tether, dan Doge bukan mata uang seperti rupiah atau dolar AS. Karena, walau disebutkan coin atau uang, crypto ini bukan mata uang yang mempunyai dasar esensial seperti keadaan ekonomi satu negara, suku bunga referensi, dan data makroekonomi yang lain.

Asset kripto pun tidak dapat dikaji sisi esensialnya seperti saham emiten yang perusahaannya berpendapatan, operasi usaha, keuntungan dan dividen. Adapun reksadana dapat disaksikan isi portofolionya yang tercantum dalam fund fact sheet. Oleh karena itu, benar-benar susah untuk meramalkan dan menganalisa valuasi atau nilai lumrah dari Bitcoin dan koin-koin yang lain.

3. Tidak Ada Tubuh Kewenangan

Seperti disebut awalnya, asset kripto datang karena tehnologi blockchain yang memungkinkannya semua data transaksi bisnis automatis. Karena semua ditata oleh mekanisme blockchain, tidak lagi ada kewenangan manusia yang membuat ketentuan atau dapat batasi perdagangan. Maknanya, tidak ada pula pelindungan investor atau service nasabah (konsumen servis), yang dengarkan keluh kesah warga jika ada apa-apa pada asset kripto itu.

Ini pasti berlainan dengan saham atau reksadana yang dipantau oleh Kewenangan Jasa Keuangan (OJK). Jika saham bergerak tidak lumrah atau perusahaan menyalahi ketetapan, OJK dapat memberi teguran. Reksadana dan manager investasi yang tidak taat ketentuan bisa juga diberi ancaman OJK.

Sekarang ini, Bappebti Kemendag cuman memantau beberapa pedagang kripto dan asset kripto yang dapat diperjualbelikan di Indonesia. Bappebti sudah mengaku sekitar 229 tipe mata uang kripto yang bisa diperjualbelikan di Indonesia dan ada 13 perusahaan pedagang asset kripto yang tercatat di Bappebti sekarang ini.

Nach, sesudah mengenali kekurangan atau resiko asset kripto itu, kita sebagai smart investor perlu berpikiran kembali untuk putuskan melakukan investasi di asset digital itu. Kita bisa juga pilih investasi dengan resiko lebih rendah atau terarah seperti reksadana.

Reksadana ialah kelompok dana investor yang diatur oleh manager investasi untuk dimasukkan pada beberapa aset keuangan seperti saham, obligasi dan pasar uang. Reksadana ialah investasi sah yang dipantau oleh OJK.

DISCLAIMER​

Semua data performa investasi yang tercantum dalam artikel ini ialah performa masa lampau dan tidak jamin performa di periode kedepan. Investor harus membaca dan pahami prospektus dan fund fact sheet dalam melakukan investasi reksadana.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *